Selasa, 28 Juni 2011 - 0 komentar

**wish**

seandainya abstrak itu tak kan pernah terdefinisikan?
apakah semuanya akan tetap seperti ini...
gelisah...
perubahan itu sebuah keniscayaan
sikap dingin, acuh, tak acuh, tertawa, bahagia
aku di sini dengan semua prasangka yang tak jelas
dengan semua pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya tak pernah menampakkan diri
hari-hariku yang penuh dengan bayang-bayang
dejavu itu...
mimpi itu...
adakah sedikit ruang bagiku untuk menikmati yang namanya 'kebebasan' ?
bebas dari semua pengakuan tak jelas
bebas dari belenggu diri...
Sabtu, 25 Juni 2011 - 0 komentar


tersudut di sini...
semua seakan-akan mengoyak hati
apa yang telah terjadi?
takut...
apakah seperti itu realitanya sekarang...
semakin jauh melangkah, 
semua terasa semakin samar
abstrak itu pun semakin tak terjelaskan...

Jumat, 24 Juni 2011 - 0 komentar

*Tuhan...Hati...Cinta*

Kita harus membagi reski dengan bumi. Kaum tua asyik dengan kenangan masa lalunya, sementara yang muda-muda membangun dunia. Tuhan memiliki rencananya sendiri dan apa hakku mempertanyakannya? :-D...banyak jalan menuju Tuhan dan jalan-jalan itu tak terbatas. 
Tetapi sekali saja kau bisa melaluinya, setiap orang akan menyadari bahwa tujuannya selalu sama. Hidup adalah sebuah melodi yang mengalun pasti, setiap nada bersambung ke nada berikutnya dengan harmonis.
**Cinta itu adalah sungai kehidupan yang abadi. Dan sungai itu akan membawa kita semua menuju lautan yang sama. Mereka yang tidak memiliki cinta di hatinya, karena itulah mereka mengeluh.


“Ada banyak hal yang tidak boleh ternoda oleh kata-kata”


Tuhan ternyata lebih sederhana dipahami daripada penjelasan yang dibuat manusia mengenai-Nya. 
Apa yang dia inginkan dari kita hanyalah supaya hidup tanpa menyakiti satu sama lain.
Dilanda perasaan takut atau sedih bukan berarti menandakan seseorang sudah membuat kesalahan. Perasaan itu hinggap karena seseorang tidak benar-benar menyimak dan mendengarkan nuraninya.
Jangan biarkan pengharapan menyimpangkan kenyataan. Kau hanya akan menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga ini.
Hati kita luas tak berbatas. Kepiluan itu adalah hati yang sedang melebarkan sayapnya.
Ketika hatimu terluka parah, hanya ada 3 aturan main; jangan mengenyahkan kepedihan itu, jangan pernah mencoba untuk mengerti dan jangan tenggelam dalam kepedihan itu.
Menghilangkan ego diri adalah sebuah jalan, tetapi bukan sebuah tujuan. Betapa agung cinta-Nya. Dia ingin kau mengenal-Nya dengan segenap kesadaran.


Seseorang bisa saja mencintai tanpa menginginkan balasan apa pun dari orang yang dia cintai. Cinta tak lain adalah aliran napas tuhan yang selalu menyertai napasmu.
Batu bertuah itu tak lain adalah bagian termurni dari dirimu, sang kalbu.


**dikutip dari rangkaian kata-kata pada buku Kimya Sang Putri Rumi**
19 Mei 2009
- 0 komentar

**klik klik di pagi yang masih sunyi sambil menikmati sang surya memunculkan mukanya yang masih lucu-lucunya (haha)**...
ini adalah potret alam yang menenangkan hati saat melihatnya. indah...hanya itu kata yang bisa terlontar. 


**tempat ini adalah pelarian saat masih menyandang predikat MABA...bersama teman baru yang masih asing bagiku namun kami merasakan hal yang sama bahwa kami ingin berteriak di tempat ini melepas beban di dunia yang baru kami masuki. duduk memancing sambil menikmati es poteng, bakso hahaha. sungguh merindukan masa2 itu**
- 0 komentar


Jiwa dalam dilema kehidupan…
Menghancurkan impian yang tersembunyi dalam kalbu
Ketika rasa menjadi virus dalam setiap langkah
Terjebak dalam kemunafikan diri
Menjerit dikesunyian malam yang hitam
Asa pupus ditengah rintihan yang terabaikan
Kebaikan menjadi iblis penggoda yang melenakan
Akal menjadi buta dan perasaan menjadi pemimpin
Sungguh kasihannya…
Cahaya yang begitu kurindukan ternyata marah
Mengabaikanku dalam keputusasaan
Inginku pamit pada tempatku berpijak ini…
Pamit untuk tidur sejenak…
Bersamaan dengan penantianku dalam harapan cahaya-Nya….
Kamis, 23 Juni 2011 - 0 komentar

---Melepasmu---



Renungan panjang tak berujung...
Menjelajahi langit malam mencari seberkas sinar
jiwa yang pincang akan iman
haus akan setetes air di tengah padang luas
tangan mengukir takdir di atas sucinya putih
rantai kesakitan mencekik sesak


Ada tetesan air mata di beranda hati
Saat menyadari tanganmu tak lagi dalam genggaman
Bayangmu pun semakin memudar dan akhirnya kau pun menghilang
Jejak langkah yang tertinggal menyisahkan goresan pena yang tak akan pernah terhapus


Tangan ini menengadah meminta bintang keberuntungan untukmu
Bisikan batin yang berusaha melepasmu dengan tulus
Gurauan akal dan hati yang mencari kebijaksanaan
Langkah kaki yang tidak satu arah lagi namun keyakinan bahwa "titik putih itu ada"