Senja mulai beranjak. Langit merah di pembatas antara langit dan lautan mulai memudar. Lukisan indah tiada tara di kampas ciptaan-Nya. Adzan magrib berkumandang di sudut desa. Kulangkahkan kaki di selingan ombak pantai yang sekali-kali menyentuh, dingin.
”Aku adalah gadis dalam kotak...” keluh hatiku...
Di dunia yang kasat mata, penuh dengan penghuni yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Dan peranku hanyalah menonton. Bagiku, mereka seperti panggung pementasan dengan timing yang tak diketahui kapan akan berakhir.
”kemana kumelangkah?”...
Menelusuri masa lalu dan kudapatkan diri tak mengenal dengan baik tujuannya. Begitu banyak peradaban yang telah musnah hingga hari ini pun tiba. Nyawa yang tak terhitung telah melayang. Hanya untuk sebuah harga diri, keangkuhan, kesombongan dan berbagai produk lain yang ditawarkan oleh rumah kita semua yakni bumi ini. Semua itu menjadi kisah klasik yang akan selalu menjadi bahan cerita untuk generasi berikutnya. Namun, aku menjadi sangsi karena sampai sekarang
semua itu masih menjadi skenario. Dititik kordinat bumi yang entah berapa, orang hidup dengan ketakutan setiap detiknya. Aku hanyalah gadis dalam kotak, melihat dan bersembunyi di balik kotakku. Sejarah yang telah melahirkan hari ini menjadi sesuatu yang sama sekali tak terkenali oleh diriku. Pengertian yang aku miliki bukanlah pengertian yang benar karena kebenaran itu pun tak terkenali oleh indra dan akalku.
”apa yang bisa menjadi cahaya dalam gelapnya jalanku?”...
Matahari yang setiap hari dengan sinarnya yang begitu kemilau. Cahaya yang begitu terang kadang membuat tak bisa melihat. Dengan ketetapan yang telah berlaku padanya, matahari akan terus bersinar sampai akhir. Begitupun dengan malam, cahayapun akan tetap ada. Walau tak sekemilau matahari, namun bisa menerangi. Dalam gelap, ternyata keindahan pun bisa tercipta. Pancaran sinar dari bintang dan bulan di malam hari yang akan menjadi matahari.
Pemikiran yang panjang, kompleks dan berkelok-kelok mengisi kepalaku. Berbagai rana menyusup membentuk ikatan yang tak terdefinisi. Sampai akhirnya aku tak mengenali simpulnya lagi. Apakah skenario pementasan ini masih panjang? Aku sudah letih awan. Hampir aku lupa, warna kotak tempat si gadis malang ini adalah abu-abu...
0 komentar :
Posting Komentar