Minggu, 16 September 2012 - 0 komentar

Ketika aku, coki-coki dan api unggun




Biarkan aku bercerita pada detik ini…
Kala itu, aku tertatih berjalan mengikuti jalan setapak yang kadang berliku, kadang terjal, mendaki dan kadang datar. Dengan nafas yang sudah ngos-ngosan. Sampai pada mataku tertuju pada sosok yang sedang duduk diatas sebuah kayu panjang yang melintang didekat jalan setapak itu. Akhirnya kuberanikan diri untuk melangkah mendekat dan berkata “bolehkan aku duduk?”
Dia hanya tersenyum meng”iya”kan…
Dia pun kelihatan lelah.
Setelah beberapa detik, aku harus melanjutkan perjalanan. Dia mengikutiku.
Kaki ini terus melangkah walau terasa berat. Namun ada kekuatan yang bekerja dalam keheningan hati. Ada warna yang membias dari langit menyelimuti semesta. Kuberanikan segenap diri untuk menolehkan badan dan kulihat sebuah tatapan mata yang mampu “menggetarkan” hati. Kutertunduk mencoba menerjemahkan semua ini. Namun aku tersentak, aku harus memulai percakapan. Akhirnya mengalirlah berbagai candaan dan celoteh. Dan kusadari, dia cukup merespon. Kadang tersenyum, kadang wajah bingung dan kadang sebuah candaan. Namun, dia tidak pernah bertanya balik. Sepertinya hanya diriku yang amat penasaran terhadapnya. Dia cukup santai dan menikmati semuanya. Terus berjalan dan terus berjalan hingga kelelahan menghampiriku lagi. Akhirnya aku menghempaskan tubuh. Dan dia pun mengikutiku. Aku hanya bisa tersenyum dan berkata “aku lelah”. Kutawarkan “cokelat” dan dia pun menerimanya. Kami berdua pun menikmati cokelat itu dalam kelelahan.
Aku hanya bisa bercerita sampai di sini.

Karena aku tahu bercerita lebih lanjut, hanya akan meresahkan hati. Ini tidak obyektif, karena hanya berdasarkan sudut pandangku saja. Ada keinginan untuk melengkapinya namun aku takut aku akan salah mengekspresikan pikiranku. Ataukah harus kuciptakan dongeng untuk cerita ini. Pikiranku terus berjalan, sepotong cerita itu terus menghantui dalam langkahku yang nyata. Kenangan, semua itu telah menjadi kenangan. Beberapa hari setelah moment itu terjadi, aku hidup dalam kenangan. Walau coba untuk kuhalangi namun, pikiranku tak dapat ditebas. Dia bebas tanpa beban berkeliaran. Seakan-akan tak menyadari betapa tersiksanya jiwaku.
Kuingin semua ini adalah sebuah dongeng. Dongengku di penghujung 22 tahun usiaku. Ataukah itu adalah pintu? Ketika tak dapat kupahami kenapa perjalananku bermuara di “puncak kedamaian” itu. Ataukah ini adalah cerita pengantar menuju sebuah pemahaman yang lebih bijaksana akan keberadaanku?
Yah mungkin begitulah kenyataanya bahwa “kita adalah apa yang terus berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian”…

**a present for my 23 years: kisah yang menghangatkan laiknya api unggun yang menghangatkan kala malam itu**

0 komentar :

Posting Komentar