Biarkan aku bercerita
pada detik ini…
Kala itu, aku tertatih berjalan mengikuti jalan setapak yang
kadang berliku, kadang terjal, mendaki dan kadang datar. Dengan nafas yang
sudah ngos-ngosan. Sampai pada mataku tertuju pada sosok yang sedang duduk
diatas sebuah kayu panjang yang melintang didekat jalan setapak itu. Akhirnya
kuberanikan diri untuk melangkah mendekat dan berkata “bolehkan aku duduk?”
Dia hanya tersenyum meng”iya”kan…
Dia pun kelihatan lelah.
Setelah beberapa detik, aku harus melanjutkan perjalanan. Dia
mengikutiku.
Kaki ini terus melangkah walau terasa berat. Namun ada
kekuatan yang bekerja dalam keheningan hati. Ada warna yang membias dari langit
menyelimuti semesta. Kuberanikan segenap diri untuk menolehkan badan dan
kulihat sebuah tatapan mata yang mampu “menggetarkan” hati. Kutertunduk mencoba
menerjemahkan semua ini. Namun aku tersentak, aku harus memulai percakapan.
Akhirnya mengalirlah berbagai candaan dan celoteh. Dan kusadari, dia cukup
merespon. Kadang tersenyum, kadang wajah bingung dan kadang sebuah candaan.
Namun, dia tidak pernah bertanya balik. Sepertinya hanya diriku yang amat
penasaran terhadapnya. Dia cukup santai dan menikmati semuanya. Terus berjalan
dan terus berjalan hingga kelelahan menghampiriku lagi. Akhirnya aku menghempaskan
tubuh. Dan dia pun mengikutiku. Aku hanya bisa tersenyum dan berkata “aku
lelah”. Kutawarkan “cokelat” dan dia pun menerimanya. Kami berdua pun menikmati
cokelat itu dalam kelelahan.
Aku hanya bisa bercerita sampai di sini.
Karena aku tahu bercerita lebih lanjut, hanya akan meresahkan
hati. Ini tidak obyektif, karena hanya berdasarkan sudut pandangku saja. Ada
keinginan untuk melengkapinya namun aku takut aku akan salah mengekspresikan
pikiranku. Ataukah harus kuciptakan dongeng untuk cerita ini. Pikiranku terus
berjalan, sepotong cerita itu terus menghantui dalam langkahku yang nyata.
Kenangan, semua itu telah menjadi kenangan. Beberapa hari setelah moment itu
terjadi, aku hidup dalam kenangan. Walau coba untuk kuhalangi namun, pikiranku
tak dapat ditebas. Dia bebas tanpa beban berkeliaran. Seakan-akan tak menyadari
betapa tersiksanya jiwaku.
Kuingin semua ini adalah sebuah dongeng. Dongengku di
penghujung 22 tahun usiaku. Ataukah itu adalah pintu? Ketika tak dapat kupahami
kenapa perjalananku bermuara di “puncak kedamaian” itu. Ataukah ini adalah
cerita pengantar menuju sebuah pemahaman yang lebih bijaksana akan keberadaanku?
Yah mungkin begitulah kenyataanya bahwa “kita adalah apa yang
terus berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian”…
**a present for my 23 years: kisah yang menghangatkan laiknya api unggun yang menghangatkan kala malam itu**
0 komentar :
Posting Komentar