Senin, 16 Juli 2012 - 0 komentar

Just My Imagine...


Aku adalah…
Nyata yang tak berarti
Aku adalah…
Jiwa yang mati
Aku adalah…
Sipenderita yang tak terhingga
Keniscayaan yang menyelimuti langkahku
Menorehkan garis lengkung disudut kalbu
Bintang yang menjadi sinar,
redup dalam ketaksampaianku
Takdir cinta mengakar pedih sukma
Penyesalan hidup menjadi teguran kekecewaan
Sepiku….
00:30, 13 September 2009

Kututup diary putih itu setelah kata sepiku.
“Ya Allah, kenapa dada ini sesak sekali? Berat rasanya untuk bernapas. Sejauh itukah laraku sekarang?” Jeritku dalam batin.
Mata ini sulit sekali untuk terpejam namun lama kelamaan…
“Salahkah aku yang memiliki perasaan ini? Namun apanya yang harus aku salahkan? Dia datang dengan sendirinya. Andai diberi pilihan, aku pasti memilih untuk tidak mempunyai perasaan ini. Siapa yang mau menjerumuskan dirinya dalam duka?”
…………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………….
Sore ini dia datang terlambat dalam rapat. Rapat pembentukan panitia diklat jurnalistik di kampusku. Dia adalah coordinator stering. Rapat sore itu berlangsung hingga menjelang magrib.
“Dinda, setelah ini kau mau kemana?” Tanyanya sambil mengambil tasnya.
“Oh ke mushallah dulu shalat kak…” Jawabku sambil berlalu.
“Selesai shalat langsung ke koridor yah…!” teriaknya.
Aku hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh. Entahlah aku bingung dan bimbang dengan diriku sekarang. Bagaimana aku harus bersikap padanya. Karena sekarang yang aku rasakan setiap berada disampingnya, konsentrasiku pasti terganggu.   
Dia itu adalah mantan ketua himpunan di fakultas tempatku menimba ilmu sekarang. Awal perkenalanku dengannya sewaktu masih menyandang predikat mahasiswa baru. Dan itu sudah satu setengah tahun yang lalu. Masa dimana pengetahuanku mengenai dunia kampus masih sebatas kulit ari.
“Kenapa akhir-akhir ini, aku melihat kebiasaan diammu makin bertambah?” tanya kak Antoni sambil mengambil sesuatu dari tasnya.
Tanganku dingin, jantungku berdegup kencang.
“Ternyata dia menyadari…” Kataku dalam hati.
“hmhm betulkah??? Mungkin Itu hanya perasaan kakak. Aku baik-baik saja…” jawabku sambil mengalihkan mata memandang langit.
“Aku yakin andaikan langit dan bintang bisa berbicara, pasti dia akan mengatakan padaku bahwa gadis yang ada disampingmu sedang berbohong. Aku betul-betul iri pada langit dan bintang. Dia mengetahui semua isi hatimu dan semua hal yang terjadi padamu…tapi sudahlah jangan dimasukkan dalam hati. Oia happy birthday…” katanya sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna putih.
Aku kaget. Dan yang lebih mengagetkan adalah lampu dilapangan basket itu tiba-tiba menyala. Dan kak Antoni berlari sambil membawa sebuah bola basket lalu mengover padaku.
“Itu kado simpan dulu dalam tas. Ayo main dulu…”
Tubuhku luluh, tulangku seakan rapuh semua.
“Aku tidak mau main basket….” Ungkap hatiku.
Tanpa kusadari ternyata diriku berlari meninggalkan lapangan basket itu dan kak Antoni hanya terpaku melihat tingkah anehku.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Pelan-pelan kubuka kotak kecil berwarna putih itu. Dan isinya…
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh bunyi hp. Ada sms…
“Maaf…Namun aku butuh penjelasan, jadi besok ketemu di lapangan basket ba’da ashar. Aku tau kau orang aneh tapi kepalaku sudah tidak mampu menampung semua pertanyaan mengenai sikapmu. Jangan menolak. Ingat aku adalah seniormuJ …”
Sms 2… 
Jangan menertawakan gambarku. Itu adalah hasil keringatku dan hampir satu minggu aku membuatnya. Kamu tahu, susah sekali membuatnya, tapi Antoni tidak mudah menyerah, jadi gambar itu terus kupolesi agar bisa terlihat indah…”       
Yah sebuah gambar seorang gadis yang sedang menatap langit. Dan gadis itu pasti aku.
Masih teringat jelas pertama kenal dengan kak Antoni di acara penyambutan mahasiswa seni. Kak Antoni anak seni musik. Penyambutan itu dilakukan di luar kampus dan selama tiga hari. Tepatnya di alam terbuka dan daerah pegunungan. Pada saat itu kak Antoni berada di pos terakhir.
“Keindahan itu apa?” tanyanya waktu itu sambil matanya tertuju padaku.
“Langit…” jawabku.
Kak Antoni masih mau bertanya tapi tiba-tiba adzan magrib sudah berkumandang jadi acara langsung dibubarkan. Dan mulai pada saat itu, Kak Antoni memanggilku Langit. Tapi aku marah dan akhirnya dia pun mengalah dan memanggil namaku “Dinda”. Walaupun sampai detik ini dia masih penasaran kenapa aku tidak mau dipanggil Langit. Berkali-kali pertanyaan itu terlontar darinya tapi hatiku belum terketuk untuk mengungkap semua padanya.
Sekarang aku sudah 20 tahun. Masa dimana harusnya kedewasaanku sudah mantap, tapi kenapa aku merasa, aku masih anak kecil. Aku adalah seorang gadis yang hidup dengan bayang-bayang masa lalu.
Kupandangi boneka teddy bear yang berada di sudut kamar, dekat jendela. Boneka yang menjadi hadiah pertama bagiku dari orang yang telah membuatku menjadi seperti ini. Orang yang meninggalkan sejuta kenangan yang tak bisa terhapus dalam pikiranku.
“Tak pernah berhenti rindukan dirimu, walau kini kau tak lagi di sampingku”
Kurasa itu adalah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini.  
“oh cinta itu sudah mengakar dan mungkin tak bisa tergantikan lagi…”
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“kak thanks atas hadiahnya…” kataku memulai percakapan.
“hanya itu…??? Harusnya ada traktiran dunkz!!!” kak Antoni mulai lagi menjawab dengan celotehannya.
“iyya nanti…” jawabku singkat. Semakin panjang bicaraku, akan membuka peluang baginya untuk bertanya padaku. Dan itu membuatku takut, takut untuk menjawab. Ini belum waktunya. Walaupun aku sadar, dialah orang yang paling perhatian padaku. Hanya dia yang tahan berada disampingku untuk duduk dan berdiam diri, tak ada suara.
“Dinda, sampai kapan kau akan menyimpannya sediri?”
Tubuhku dingin dan rasanya ingin berlari menjauh, tapi tangannya memegang tanganku. Aku menunduk. Aku tau, aku tidak boleh menangis disini. Ough apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah ini sudah saatnya?
“Aku terkungkung dalam masa laluku. Ruang di hatiku, sepenuhnya terisi olehnya. Wujudnya sudah tidak nyata lagi. Semenjak Dia tiada, aku hanya berteman dengan langit dan bintang-bitang untuk melewati hari-hariku...”
Setelah mengungkapkan kata-kata itu, aku hanya bisa melangkah menjauh dari Kak Antoni...Entahlah,  Dia pun tak mengejarku...
........................................................................................................................................................................
Seminggu Aku tak menampakkan diri di kampus. Handphone pun ku nonaktifkan. Aku hanya merasa butuh ruang untuk sendiri, walaupun sebenarnya selama ini kesendirian selalu menemaniku. Dan tempat terindah untuk menikmati keheningan dan kesunyian adalah di gunung. Langit dan bintang pun menjadi semakin dekat.

Di loker kutemukan surat bersampulkan warna biru muda....
”berdamailah dengan masa lalumu”........'tere liye'
-Antoni-

0 komentar :

Posting Komentar