Aku adalah…
Nyata yang tak berarti
Aku adalah…
Jiwa yang mati
Aku adalah…
Sipenderita yang tak terhingga
Keniscayaan yang menyelimuti langkahku
Menorehkan garis lengkung disudut kalbu
Bintang yang menjadi sinar,
redup dalam ketaksampaianku
Takdir cinta mengakar pedih sukma
Penyesalan hidup menjadi teguran kekecewaan
Sepiku….
00:30, 13 September 2009
Kututup diary putih itu setelah kata sepiku.
“Ya Allah, kenapa dada ini sesak
sekali? Berat rasanya untuk bernapas. Sejauh itukah laraku sekarang?” Jeritku
dalam batin.
Mata ini sulit sekali untuk
terpejam namun lama kelamaan…
“Salahkah aku yang memiliki
perasaan ini? Namun apanya yang harus aku salahkan? Dia datang dengan
sendirinya. Andai diberi pilihan, aku pasti memilih untuk tidak mempunyai
perasaan ini. Siapa yang mau menjerumuskan dirinya dalam duka?”
…………………………………………………………………………………………………………
……………………………………………………….
Sore ini dia datang terlambat
dalam rapat. Rapat pembentukan panitia diklat jurnalistik di kampusku. Dia
adalah coordinator stering. Rapat sore itu berlangsung hingga menjelang magrib.
“Dinda, setelah ini kau mau
kemana?” Tanyanya sambil mengambil tasnya.
“Oh ke mushallah dulu shalat
kak…” Jawabku sambil berlalu.
“Selesai shalat langsung ke
koridor yah…!” teriaknya.
Aku hanya menganggukkan kepala
tanpa menoleh. Entahlah aku bingung dan bimbang dengan diriku sekarang.
Bagaimana aku harus bersikap padanya. Karena sekarang yang aku rasakan setiap
berada disampingnya, konsentrasiku pasti terganggu.
Dia itu adalah mantan ketua himpunan di fakultas
tempatku menimba ilmu sekarang. Awal perkenalanku dengannya sewaktu masih
menyandang predikat mahasiswa baru. Dan itu sudah satu setengah tahun yang
lalu. Masa dimana pengetahuanku mengenai dunia kampus masih sebatas kulit ari.
“Kenapa akhir-akhir ini, aku
melihat kebiasaan diammu makin bertambah?” tanya kak Antoni sambil mengambil
sesuatu dari tasnya.
Tanganku dingin, jantungku
berdegup kencang.
“Ternyata dia menyadari…” Kataku
dalam hati.
“hmhm betulkah??? Mungkin Itu
hanya perasaan kakak. Aku baik-baik saja…” jawabku sambil mengalihkan mata
memandang langit.
“Aku yakin andaikan langit dan
bintang bisa berbicara, pasti dia akan mengatakan padaku bahwa gadis yang ada
disampingmu sedang berbohong. Aku betul-betul iri pada langit dan bintang. Dia
mengetahui semua isi hatimu dan semua hal yang terjadi padamu…tapi sudahlah
jangan dimasukkan dalam hati. Oia happy
birthday…” katanya sambil menyodorkan sebuah kotak berwarna putih.
Aku kaget. Dan yang lebih
mengagetkan adalah lampu dilapangan basket itu tiba-tiba menyala. Dan kak
Antoni berlari sambil membawa sebuah bola basket lalu mengover padaku.
“Itu kado simpan dulu dalam tas. Ayo main dulu…”
Tubuhku luluh, tulangku seakan rapuh semua.
“Aku tidak mau main basket….”
Ungkap hatiku.
Tanpa kusadari ternyata diriku
berlari meninggalkan lapangan basket itu dan kak Antoni hanya terpaku melihat
tingkah anehku.
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
Pelan-pelan kubuka kotak kecil berwarna
putih itu. Dan isinya…
Tiba-tiba aku dikagetkan oleh
bunyi hp. Ada sms…
“Maaf…Namun aku butuh penjelasan, jadi besok ketemu di
lapangan basket ba’da ashar. Aku tau kau orang aneh tapi kepalaku sudah tidak
mampu menampung semua pertanyaan mengenai sikapmu. Jangan menolak. Ingat aku
adalah seniormuJ …”
Sms 2…
“Jangan menertawakan gambarku. Itu adalah hasil keringatku dan hampir
satu minggu aku membuatnya. Kamu tahu, susah sekali membuatnya, tapi Antoni
tidak mudah menyerah, jadi gambar itu terus kupolesi agar bisa terlihat indah…”
Yah sebuah gambar seorang gadis
yang sedang menatap langit. Dan gadis itu pasti aku.
Masih teringat jelas pertama
kenal dengan kak Antoni di acara penyambutan mahasiswa seni. Kak Antoni anak
seni musik. Penyambutan itu dilakukan di luar kampus dan selama tiga hari.
Tepatnya di alam terbuka dan daerah pegunungan. Pada saat itu kak Antoni berada
di pos terakhir.
“Keindahan itu apa?” tanyanya
waktu itu sambil matanya tertuju padaku.
“Langit…” jawabku.
Kak Antoni masih mau bertanya
tapi tiba-tiba adzan magrib sudah berkumandang jadi acara langsung dibubarkan.
Dan mulai pada saat itu, Kak Antoni memanggilku Langit. Tapi aku marah dan
akhirnya dia pun mengalah dan memanggil namaku “Dinda”. Walaupun sampai detik
ini dia masih penasaran kenapa aku tidak mau dipanggil Langit. Berkali-kali
pertanyaan itu terlontar darinya tapi hatiku belum terketuk untuk mengungkap
semua padanya.
Sekarang aku sudah 20 tahun. Masa
dimana harusnya kedewasaanku sudah mantap, tapi kenapa aku merasa, aku masih
anak kecil. Aku adalah seorang gadis yang hidup dengan bayang-bayang masa lalu.
Kupandangi boneka teddy bear yang
berada di sudut kamar, dekat jendela. Boneka yang menjadi hadiah pertama bagiku
dari orang yang telah membuatku menjadi seperti ini. Orang yang meninggalkan
sejuta kenangan yang tak bisa terhapus dalam pikiranku.
“Tak pernah berhenti rindukan dirimu, walau kini kau tak lagi
di sampingku”
Kurasa itu adalah kata yang tepat
untuk menggambarkan perasaanku saat ini.
“oh cinta itu sudah mengakar dan
mungkin tak bisa tergantikan lagi…”
………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
“kak thanks atas hadiahnya…” kataku memulai
percakapan.
“hanya itu…??? Harusnya ada
traktiran dunkz!!!” kak Antoni mulai lagi menjawab dengan celotehannya.
“iyya nanti…” jawabku singkat.
Semakin panjang bicaraku, akan membuka peluang baginya untuk bertanya padaku.
Dan itu membuatku takut, takut untuk menjawab. Ini belum waktunya. Walaupun aku
sadar, dialah orang yang paling perhatian padaku. Hanya dia yang tahan berada
disampingku untuk duduk dan berdiam diri, tak ada suara.
“Dinda, sampai kapan kau akan
menyimpannya sediri?”
Tubuhku dingin dan rasanya ingin
berlari menjauh, tapi tangannya memegang tanganku. Aku menunduk. Aku tau, aku
tidak boleh menangis disini. Ough apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah
ini sudah saatnya?
“Aku terkungkung dalam masa
laluku. Ruang di hatiku, sepenuhnya terisi olehnya. Wujudnya sudah tidak nyata
lagi. Semenjak Dia tiada, aku hanya berteman dengan langit dan bintang-bitang
untuk melewati hari-hariku...”
Setelah mengungkapkan kata-kata
itu, aku hanya bisa melangkah menjauh dari Kak Antoni...Entahlah, Dia pun tak mengejarku...
........................................................................................................................................................................
Seminggu Aku tak menampakkan diri
di kampus. Handphone pun ku nonaktifkan. Aku hanya merasa butuh ruang untuk
sendiri, walaupun sebenarnya selama ini kesendirian selalu menemaniku. Dan
tempat terindah untuk menikmati keheningan dan kesunyian adalah di gunung. Langit
dan bintang pun menjadi semakin dekat.
Di loker kutemukan surat
bersampulkan warna biru muda....
”berdamailah dengan masa lalumu”........'tere liye'
-Antoni-
0 komentar :
Posting Komentar