Di titik ini, sekarang aku berpijak
berusaha menemukan simpul yang bisa menghubungkan ketidakteraturan jalan
pikiranku dengan tatanan nyata yang aku hadapi. Apakah
”sempurna” memang hanya ada dalam pikiran? Apakah ”sempurna” itu satu adanya,
Sama dengan yang ada dipikiranku dengan dipikiranmu? Ataukah sama sekali berbeda? Jika
demikian adanya, itukah yang menyebabkan kemustahilan keberadaannya? Mungkin
”sempurna” hanya katanya yang sama namun mempunyai pemaknaan yang berbeda
antara aku, kau dan mereka....yah seperti itu yang bisa aku pikirkan
sekarang...
Sungguh
aku iri dengan ”pikiran” yang bisa bebas beterbangan dan merasakan
kebebasan...bisa memikirkan segala hal dan menjadi siapa pun...sedangkan diriku
hanya bisa ”terbelenggu” ≠kontradiksi≠ ataukah engkau ”pikiran” karena
kebebasanmu membuatku terbelenggu?
Hei
aku lupa satu hal, meski engkau ”pikiran” bebas namun engkau hanya ada dalam
dunia ide, tak mewujud dalam nyata seperti diriku ini...engkau sebenarnya lebih
menyakitkan daripada diriku, engkau berada dalam pagar yang dibatasi oleh
radiasi-radiasi yang tak bisa engkau langkahi...engkau hanya bebas dalam
”sangkarmu”....sepertinya diriku sudah mulai melangkah ke arah kebimbangan yang
amat parah...mulai memasuki area bifurkasi...eh eh eh
Tapi,
engkau dan aku menghuni istana yang sama. Istana yang amat sangat indah dan
penuh dengan berbagai struktur rumit namun terarah. Istana terindah yang bisa
kita bawa kemana-mana. Aku hanya perlu memasukkan bahan yang bisa menjadi
sumber energi baginya sehingga engku pun bisa berkerja...
Hei
apakah kita bisa berkerja sama? Aku melupakan satu hal lagi, engkau bekerja
atas dasar perintahku, yak aku bisa mengendalikanmu....namun, kenapa tidak ada
yang sempurna walau pada kenyataannya aku bisa mengendalikanmu...ada energi
yang bekerja dari luar yang menghambat etos kerja dan gelombang yang kita
pancarkan...yak, energi itu selalu memberi kejutan...kadang menghambat atau sebaliknya,
memperlancar dan selalu tak terduga cara kerjanya...
Inikah
relativitas? Kita tidak boleh hanya mengenal hitam dan putih, tetapi harus
disadari kalau ”abu-abu” itu pun ada...dengan adanya ”abu-abu” setidaknya
memberi ruang bagi kita untuk menilai sebuah dimensi tidak dengan cara hitam
dan putih alias menghakimi...hmhm kalo demikian adanya, dimana bisa kita
tempatkan ”objektivitas”?
Sampai
pada titik bahwa ”ketidakpastian” itulah yang pasti...ketidakpastian yang
melahirkan potensi, probabilitas dan kesempatan...dan semua ini terjadi setiap
detiknya...kesempatan yang selalu beriringan dengan kata kerja
”memilih”...kesempatan selalu ada, dia tidak datang sekali...dia selalu ada
sebagai konsekuensi dari pilihan itu sendiri...dan setiap pilihan itu yang
melahirkan pembaharuan pada perjalanan kita. Hanya saja kadang ”iblis
ketakutan” menjadi inhibitor.
...Kita adalah
pengamat dan penikmat bukan hakim....≠supernova-Dee≠
0 komentar :
Posting Komentar