Jumat, 13 Juli 2012 - , 0 komentar

I tHink...


            Di titik ini, sekarang aku berpijak berusaha menemukan simpul yang bisa menghubungkan ketidakteraturan jalan pikiranku dengan tatanan nyata yang aku hadapi. Apakah ”sempurna” memang hanya ada dalam pikiran? Apakah ”sempurna” itu satu adanya, Sama dengan yang ada dipikiranku dengan dipikiranmu? Ataukah sama sekali berbeda? Jika demikian adanya, itukah yang menyebabkan kemustahilan keberadaannya? Mungkin ”sempurna” hanya katanya yang sama namun mempunyai pemaknaan yang berbeda antara aku, kau dan mereka....yah seperti itu yang bisa aku pikirkan sekarang...
            Sungguh aku iri dengan ”pikiran” yang bisa bebas beterbangan dan merasakan kebebasan...bisa memikirkan segala hal dan menjadi siapa pun...sedangkan diriku hanya bisa ”terbelenggu” ≠kontradiksi≠ ataukah engkau ”pikiran” karena kebebasanmu membuatku terbelenggu?
            Hei aku lupa satu hal, meski engkau ”pikiran” bebas namun engkau hanya ada dalam dunia ide, tak mewujud dalam nyata seperti diriku ini...engkau sebenarnya lebih menyakitkan daripada diriku, engkau berada dalam pagar yang dibatasi oleh radiasi-radiasi yang tak bisa engkau langkahi...engkau hanya bebas dalam ”sangkarmu”....sepertinya diriku sudah mulai melangkah ke arah kebimbangan yang amat parah...mulai memasuki area bifurkasi...eh eh eh
            Tapi, engkau dan aku menghuni istana yang sama. Istana yang amat sangat indah dan penuh dengan berbagai struktur rumit namun terarah. Istana terindah yang bisa kita bawa kemana-mana. Aku hanya perlu memasukkan bahan yang bisa menjadi sumber energi baginya sehingga engku pun bisa berkerja...


            Hei apakah kita bisa berkerja sama? Aku melupakan satu hal lagi, engkau bekerja atas dasar perintahku, yak aku bisa mengendalikanmu....namun, kenapa tidak ada yang sempurna walau pada kenyataannya aku bisa mengendalikanmu...ada energi yang bekerja dari luar yang menghambat etos kerja dan gelombang yang kita pancarkan...yak, energi itu selalu memberi kejutan...kadang menghambat atau sebaliknya, memperlancar dan selalu tak terduga cara kerjanya...
            Inikah relativitas? Kita tidak boleh hanya mengenal hitam dan putih, tetapi harus disadari kalau ”abu-abu” itu pun ada...dengan adanya ”abu-abu” setidaknya memberi ruang bagi kita untuk menilai sebuah dimensi tidak dengan cara hitam dan putih alias menghakimi...hmhm kalo demikian adanya, dimana bisa kita tempatkan ”objektivitas”?
            Sampai pada titik bahwa ”ketidakpastian” itulah yang pasti...ketidakpastian yang melahirkan potensi, probabilitas dan kesempatan...dan semua ini terjadi setiap detiknya...kesempatan yang selalu beriringan dengan kata kerja ”memilih”...kesempatan selalu ada, dia tidak datang sekali...dia selalu ada sebagai konsekuensi dari pilihan itu sendiri...dan setiap pilihan itu yang melahirkan pembaharuan pada perjalanan kita. Hanya saja kadang ”iblis ketakutan” menjadi inhibitor.
            ...Kita adalah pengamat dan penikmat bukan hakim....≠supernova-Dee≠

0 komentar :

Posting Komentar