Sungguh materi (harta) akan sangat mempengaruhi jiwa. Jiwa yang lemah akan mudah terombang-ambing dengan gelimpangan materi sedang jiwa yang bersandar pada Allah swt tak pernah merisaukan materi. Kebahagiannya adalah kecintaanya kepada Sang Pencipta. Kesederhanaan adalah rumahnya. Baginya memberi jauh lebih baik daripada menerima.
Tak akan pernah berpikir dua kali tatkala ada orang yang membutuhkan uluran tangannya. Sungguh menyenangkannya menjadi pribadi seperti ini. Namun apakah semua orang bisa merasakan seperti ini? tatkala saat mau memberi namun dihantui dengan kekurangan yang akan menimpa. Ketakutan kepunyaan kita akan berkurang. Padahal pada hakikatnya, kita tidak memiliki apa-apa. Semua ini adalah titipan dari-Nya.
Bahkan sebenarnya bagi yang bergelimpangan harta, bisa saja itu menjadi cobaan baginya. Masih sanggupkah ia berada dalam keyakinannya dan akidahnya saat diberi titipan begitu banyak? Atau malah akan terseret dalam ketidakberdayaan? Dunia yang semakin hari semakin ramai dengan limpahan materi namun keseimbangan pun selalu menyertai, begitu banyak juga orang yang berkekurangan…titik pada saat
kekurangan dan kelebihan inilah kadang menjadikan jiwa berbuat di luar koridor. Kewarasannya dipengaruhi oleh bisikan untuk berbuat diluar batas kemanusiaannya. Nah pada saat seperti ini, raga masih dalam balutan manusia namun jiwa telah berada sifat hewani…jadi apa yang membedakannya dengan sifat binatang atau hewan?Teringat pada tulisan seseorang :
“kemanusiaan kita sering membuat kita lemah di saat kita dituntut untuk meminimalisir kekurangan kita...kedok manusia juga lah dijadikan alasan, untuk segala kealpaan dan kesalahan. Bukankah manusia mampu melebihi tingginya derajat malaikat, jika bisa memaksimalkan hati dan pikiran, iman dan akal, pun manusia bisa menjadi sangat rendah, bahkan dari hewan; ketika nafsu berkuasa atas diri. Bersyukurlah…”
Yah solusi dan obat untuk menghindari kemiskinan jiwa adalah bersyukur dan belajar untuk terus memberi tanpa harus mengharap balasan…balasan akan datang pada saatnya nanti, balasan dari Sang Pemberi titipan…yakinlah balasan itu sesuai dengan yang telah kita lakukan…dan tidaklah kita merugi karena Dia adalah Maha Adil…mungkin keadilannya kadang kita pertanyakan namun yakinlah tak semua hal bisa dijangkau dengan akal kita yang serba terbatas namun ingatlah itulah janji Allah dalam kitab suci Al-Qur’an dan Allah tidaklah pernah menyalahi janji….
0 komentar :
Posting Komentar