turbulensi yang terjadi pada hati...
menjadikan musim baru dalam duniaku
"musim tanya"
kuberjalan menelusuri tebing-tebing pikiranku
kudapati jalan terjal yang membuat ragu untuk melewatix
mampukah kutebas setitik demi setitik keraguan yang ada?
ketika keraguan itu sendiri adalah perantara menuju keyakinan...
ketika keraguan itu adalah jmbatan yang indah sekaligus tempat
tinggal yg buruk...
akankah keraguan itu berakhir pada ketiadaan?
Kamis, 11 Oktober 2012
-
penaku
,
road to heaven
0
komentar
penaku
,
road to heaven
0
komentar
tanda tanya
Minggu, 16 September 2012
-
0
komentar
0
komentar
Ketika aku, coki-coki dan api unggun
Biarkan aku bercerita
pada detik ini…
Kala itu, aku tertatih berjalan mengikuti jalan setapak yang
kadang berliku, kadang terjal, mendaki dan kadang datar. Dengan nafas yang
sudah ngos-ngosan. Sampai pada mataku tertuju pada sosok yang sedang duduk
diatas sebuah kayu panjang yang melintang didekat jalan setapak itu. Akhirnya
kuberanikan diri untuk melangkah mendekat dan berkata “bolehkan aku duduk?”
Dia hanya tersenyum meng”iya”kan…
Dia pun kelihatan lelah.
Setelah beberapa detik, aku harus melanjutkan perjalanan. Dia
mengikutiku.
Kaki ini terus melangkah walau terasa berat. Namun ada
kekuatan yang bekerja dalam keheningan hati. Ada warna yang membias dari langit
menyelimuti semesta. Kuberanikan segenap diri untuk menolehkan badan dan
kulihat sebuah tatapan mata yang mampu “menggetarkan” hati. Kutertunduk mencoba
menerjemahkan semua ini. Namun aku tersentak, aku harus memulai percakapan.
Akhirnya mengalirlah berbagai candaan dan celoteh. Dan kusadari, dia cukup
merespon. Kadang tersenyum, kadang wajah bingung dan kadang sebuah candaan.
Namun, dia tidak pernah bertanya balik. Sepertinya hanya diriku yang amat
penasaran terhadapnya. Dia cukup santai dan menikmati semuanya. Terus berjalan
dan terus berjalan hingga kelelahan menghampiriku lagi. Akhirnya aku menghempaskan
tubuh. Dan dia pun mengikutiku. Aku hanya bisa tersenyum dan berkata “aku
lelah”. Kutawarkan “cokelat” dan dia pun menerimanya. Kami berdua pun menikmati
cokelat itu dalam kelelahan.
Aku hanya bisa bercerita sampai di sini.
Senin, 16 Juli 2012
-
0
komentar
0
komentar
Just My Imagine...
Aku adalah…
Nyata yang tak berarti
Aku adalah…
Jiwa yang mati
Aku adalah…
Sipenderita yang tak terhingga
Keniscayaan yang menyelimuti langkahku
Menorehkan garis lengkung disudut kalbu
Bintang yang menjadi sinar,
redup dalam ketaksampaianku
Takdir cinta mengakar pedih sukma
Penyesalan hidup menjadi teguran kekecewaan
Sepiku….
00:30, 13 September 2009
Kututup diary putih itu setelah kata sepiku.
“Ya Allah, kenapa dada ini sesak
sekali? Berat rasanya untuk bernapas. Sejauh itukah laraku sekarang?” Jeritku
dalam batin.
Mata ini sulit sekali untuk
terpejam namun lama kelamaan…
“Salahkah aku yang memiliki
perasaan ini? Namun apanya yang harus aku salahkan? Dia datang dengan
sendirinya. Andai diberi pilihan, aku pasti memilih untuk tidak mempunyai
perasaan ini. Siapa yang mau menjerumuskan dirinya dalam duka?”
…………………………………………………………………………………………………………
Jumat, 13 Juli 2012
-
celoteh
,
penaku
0
komentar
celoteh
,
penaku
0
komentar
I tHink...
Di titik ini, sekarang aku berpijak
berusaha menemukan simpul yang bisa menghubungkan ketidakteraturan jalan
pikiranku dengan tatanan nyata yang aku hadapi. Apakah
”sempurna” memang hanya ada dalam pikiran? Apakah ”sempurna” itu satu adanya,
Sama dengan yang ada dipikiranku dengan dipikiranmu? Ataukah sama sekali berbeda? Jika
demikian adanya, itukah yang menyebabkan kemustahilan keberadaannya? Mungkin
”sempurna” hanya katanya yang sama namun mempunyai pemaknaan yang berbeda
antara aku, kau dan mereka....yah seperti itu yang bisa aku pikirkan
sekarang...
Sungguh
aku iri dengan ”pikiran” yang bisa bebas beterbangan dan merasakan
kebebasan...bisa memikirkan segala hal dan menjadi siapa pun...sedangkan diriku
hanya bisa ”terbelenggu” ≠kontradiksi≠ ataukah engkau ”pikiran” karena
kebebasanmu membuatku terbelenggu?
Hei
aku lupa satu hal, meski engkau ”pikiran” bebas namun engkau hanya ada dalam
dunia ide, tak mewujud dalam nyata seperti diriku ini...engkau sebenarnya lebih
menyakitkan daripada diriku, engkau berada dalam pagar yang dibatasi oleh
radiasi-radiasi yang tak bisa engkau langkahi...engkau hanya bebas dalam
”sangkarmu”....sepertinya diriku sudah mulai melangkah ke arah kebimbangan yang
amat parah...mulai memasuki area bifurkasi...eh eh eh
Tapi,
engkau dan aku menghuni istana yang sama. Istana yang amat sangat indah dan
penuh dengan berbagai struktur rumit namun terarah. Istana terindah yang bisa
kita bawa kemana-mana. Aku hanya perlu memasukkan bahan yang bisa menjadi
sumber energi baginya sehingga engku pun bisa berkerja...
Langganan:
Postingan
(
Atom
)